FlashVortex

Rabu, 08 Februari 2012

Dengan Ucapan Bismillah Saya Daftarkan Program Skripsi di Semester Ini


(Episode : Balada Skripsi Randi)



Alhamdulilah, proses KRS semester 8 telah selesai saya urus di kampus hari ini. Melelahkan juga, mungkin waktu ini adalah KRS yang terberat karena saya harus rela bolak-balik Surabaya – Malang. Dan semoga saja KRS kali ini adalah KRSku yang terakhir selama studi S1 di Jurusan Kimia Universitas Brawijaya.
Yah, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu inipun tiba juga. Waktu dimana selama setengah tahun kedepan nasibku selama 4 tahun menimba ilmu akan ditentukan. Itulah, Skripsi. Setiap mahasiswa jenjang S1 sudah sangat familiar di telinga mereka. banyak rumor mengatakan bahwa saat-saat skripsi adalah saat-saat yang paling menegangkan entah tegang karena psikis maupun materi. Banyak dana yang harus dikeluarkan untuk penelitian skripsi kita. tidak hanya itu, kita dianjurkan untuk kuat banting dan mental ketika penelitian kita gagal atau mendapatkan penguji/pembimbing yang disiplin tinggi. Semua kisah tumpah ruah disini, ya, saat SKRIPSI. Sehingga layak jika momen tersebut menjadi momen yang paling diingat oleh para sarjana di kehidupan nyata luar sana. Begitu momen yang seru, ada sebagian bilang momen paling indah, dan parahnya ada yang bilang momen paling menyeramkan dalam hidupnya. Wallahua’lam

Lalu, bagaimana denganmu dalam menghadapi Skripsi Esok ?
Saya katakan sejujurnya bahwa, Demi Allah saya benar-benar ketakutan dan  merasa ciut nyaliku. Entahlah, terserah anggapan orang tentangku jika saya terkesan lemah dan tak berdaya dihari-hari esok ini. Sejujurnya skripsi di bidang minat yang saya jalani ini awalnya bukanlah atas keiinginanku. Awalnya kawan.

Mundur setahun yang lalu
Suara itu masih kudengar,”Selamat ya rek, PKM – mu didanai Dikti.” bagi sebagian orang mungkin diterimanya PKM mereka (Program Kreativitas Mahasiswa adalah ajang penelitian mahasiswa yang diadakan DIKTI dimana segala pendanaan penelitian didanai oleh DIKTI) merupakan sebuah anugerah. Namun, bagiku tidak. Karena jika PKM saya (saat itu kami berlima) diterima maka saya wajib mengambil bidang minat ini. Saat itu saya shock selama satu bulan lamanya. Saya berusaha untuk kuat dan melihat sisi positif dari semuanya ini. Alhasil, dengan pikiran yang lelah saya terima segala keadaanku ini. Keadaan yang sebagian mahasiswa lainnya ingin menghindar justru saya berada di dalamnya. Selama setahun kemarin saya berusaha menguatkan seorang diri, saya tetap tampak ceria didepan banyak orang. tapi, tak semua mengetahui isi hatiku. Isi hati yang berusaha menguatkan padahal masih tampak lemah tak berdaya

Hari Ini
Akhirnya, telah saya daftarkan program skripsi di semester ini. Saya diam sejenak, saya berusaha memantapkan diri sekali lagi. meyakinkan diri sekali lagi bahwa saya pasti bisa, saya pasti mampu menghadapi segala cobaan hingga hari-hari kedepan.

Pada Intinya, apa yang kamu inginkan saat ini dalam menghadapi masa-masa sulitmu esok ?
Yang saya inginkan hanyalah ada orang-orang terdekatku yang selalu menyuportku dan menguatkanku esok ketika aku down. Jujur, selama ini saya merasa bahwa ikatan emosional dengan sahabat-sahabatku telah kendor. Entah perasaanku atau memang kenyataan seperti ini. Terbukti bahwa, mereka semua telah sibuk dengan kegiatannya masing-masing, intensitas berkumpul atau mengunjungi sudah jarang, bahkan sudah ada rasa sungkan jika meminta pertolongan karena tidak akrab lagi. Pakah ini pertanda hubungan persaudaraan ini mulai kendor ? Apakah suatu saat nanti makin hilang persaudaraan ini karena sikap yang tidak akrab lagi. Padahal dulu, saat hubungan persaudaraan kami begitu erat, saya ingin sekali disupport selama skripsi saya. Ingin sekali saat saya Ujian Seminar Proposal, Kemajuan, dan Komprehensif kelak sahabat-sahabatku ada disana untuk mendukungku, mengatakan kepadaku secara lisan,”tenang saja okte/randi, kamu pasti bisa melewatinya. Ini adalah perkara paling kecil bagi Allah Swt.”. ya, saya hanya ingin lihat keberadaan mereka saja, maka akan membantuku untuk kembali menegakkan muka agar percaya diri selama ujian berlangsung. Yang selalu siap mendengar kisahku ketika saya down dan butuh dukungan. Saya harap itu, saya inginkan itu. Selama ini saya tidak pernah meminta apa-apa darinya, hanya dukungan moral saja. Tidak sulit to? tapi itulah yang terjadi, susah untuk meminta tolong karena rasa sungkan yang lebih besar daripada rasa keterbukaan dan kebersamaan sebagai saudara.

Mengapa kamu berharap justru sahabat yang selalu ada ada untukmu kelak daripada teman-teman kuliahmu yang sebenarnya ada di sebelahmu esok ?
Tidak kawan, sahabatku itu adalah orang terbaik dalam hidupku. Bahkan dia sudah saya anggap sebagai kakakku sendiri. Bagaimana saya menghormati dia karena kedewasaannya dan ilmunya. Namun, baginya siapalah saya? Saya juga harus menerima jalanku esok seorang diri tanpa adanya sahabatku selama skripsi esok. Bagaimana sempoyongannya saya menghadapi skripsi kelak. Sedangkan teman, pasti mereka mendukungku dan menyuportku tapi tetap terlihat bahwa sahabatlah yang mampu membuat seseorang kembali bersemangat, tersenyum, bahkan terlihat percaya diri. Karena Seorang Sahabat. Subhanallah

Lalu saat ini bagaimana selanjutnya ? Apa yang akan kamu lakukan jika keadaanmu seperti ini ?
Entahlah kawan, saya lelah. Saya hanya menginginkan ada orang terdekatku kelak yang akan menyemangatiku dan mendukungku tanpa mengenal lelah demi kebaikanku demi kesuksesanku. Karena bukan untuk meminta yang lebih namun saling menolong satu dengan yang lainnya sebagai satu saudara. Dan untuk saat ini, saya tetaplah randi yang terlihat kuat diluar namun sebenarnya begitu rapuh didalam. Setengah tahun kedepan memang saya tidak tahu apa yang bakal terjadi karena seluruhnya masih menjadi suratan takdir oleh-Nya. Jika saya dalam kondisi lemah dan tak berdaya, maka doakan saja masih kuat. masih ada sedikit senyum disana walau tampak berat. Mampu berjalan seorang diri tanpa ada siapapun dan apapun. Kita lihat saja bagaimana nasibku kelak. Jika hal terburuk terjadi padaku, Wallahu’alam. Doakan Saya Kuat
Allah Maha Mengetahui apa-apa yang menjadi keinginan dan harapan hambanya. Insya Allah

Kisah Lain
Kemarin saya sempat melewati ruang sidang jurusan kimia. Ada dua ruang sidang dan itu dipakai semua. berarti ada dua mahasiswa (rekanku) yang ujian secara bersamaan di ruangan yang berbeda. terlihat sekali perbedaannya, dimana mahasiswa A begitu banyak yang mendukung, banyak yang menyuport hingga ruangan sidangnya penuh. Mahasiswa itu tampak ceria karena dukungan yang ia terima begitu mengejutkan, sehingga ia lebih percaya diri menghadapi Ujian Komprehensif. Sedangkan, mahasiswa B di ruangan lainnya terlihat seorang diri. Ia menyiapkan segala kebutuhan ujian mulai LCD, hingga penataan ruang ia sendiri yang menyiapkan. tak tampak sseorangpun rekannya yang mendukungnya. Tidak ada kawan, tragis sekali melihat dua keadaan yang berbeda ini. Namun, mahasiswa B tersebut berusaha untuk tenang dari kegalauannya mengahadapi ujian komprehensif ini. Lalu esok, bagaimana denganku ? melihat kondisiku yang mudah ngedown dan jatuh tak berdaya ? Wallahua'lam


20.00 wib
Lokasi Kos di Surabaya
Jl. Jemur Gayungan Gg. 2 No. 29
Surabaya

Kisah selanjutnya : Seminar Proposal (Episode : Balada Skripsi Randi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar