FlashVortex

Rabu, 28 Desember 2011

Akhir Kisah Si Pengemban Amanah (Episode : Ending of kahim HMK 2011)



“Seorang pemimpin pasti akan diminta pertanggung jawabannya di akhirat kelak, apakah dia akan menjalani amanah yang diembannya dengan benar atau justru malah menyalahgunakannya?”, kata sahabatku mengingatkanku. Hal serupa pernah juga disampaikan oleh ustadzku dan banyak materi-materi agama yang aku baca di dunia maya juga menjelaskan demikian. penjelasan tersebut membuat bulu kudukku merinding menyimak penjelasan tersebut, bahwasanya apa yang aku pimpin selama setahun ini pasti tidak luput dari pertanyaan Sang Khalik. aku terus ber-istighfar dalam hati untuk menenangkan diri. Allah pasti tahu apa yang kulakukan selama setahun ini demi mengemban amanah yang tidak dapat dianggap remeh ini walaupun banyak opini orang lain meragukan tentang kinerja aku sebagai pemimpin. yah, sekali lagi hanya Allah swt yang mengetahuiku, saksiku, dan penentuku kelak di akhirat.

Alhamdulilah, tidak terasa satu tahun kepengurusan ini telah aku jalankan. disini, di organisasi tingkat jurusanku yang bernama Himpunan Mahasiswa Kimia Universitas Brawijaya (HMK UB) beralamat di Gedung Kimia Timur Lantai 1 Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya , Jl. MT Haryono No. 169 Malang-Jawa Timur-Indonesia. Himpunanku ini adalah tempat aku dilatih untuk bersikap professional, tanggung jawab, hingga bagaimana cara untuk memecahkan masalah. banyak warna yang telah ditorehkan setiap aktivitasku di himpunan.
aku masih ingat ketika awal aku mengemban amanah ini oleh suara mufakat forum MUSANG XVII di Gazebo Kimia tanggal 24 Desember 2010 silam. Pada saat itu, aku adalah seorang yang dipandang sebelah mata oleh kakak tingkatku dan mungkin teman-temanku sendiri. Namun, siapa sangka bahwa mereka memberikan kepercayaan amanah ini kepadaku. Saat itu aku bimbang menerima tawaran tersebut. Apalagi udara malam hari begitu dingin dengan angin yang cukup keras, sehingga memaksakanku untuk lebih merapatkan pakaian yang kukenakan dengan jaket yang tebal. Setelah aku pikir matang-matang, aku terima tawaran mereka dengan mengucapkan kalimat “Basmallah” dengan mantap. Namun tawaran tersebut aku terima bukan karena aku berobsesi berat ingin menjadi seorang pemimpin yang memiliki kekuasaan dan perintah. bukan kawan bahkan pikiran tersebut tidak pernah terpikir sekilas saja dalam benakku. Namun, alasan terkuatku adalah aku mengingat kembali hari-hariku selama ini, aku masih tidak mampu melupakan sahabatku, aku terlalu tergantung kepadanya, sehingga waktu luang sedikit saja di rumah atau dalam keadaan sendiri maka aku langsung teringat dengannya, bagaimana dia menyejukkan hatiku dan menenangkanku dengan kedewasaannya. Namun, tiba-tiba semuanya berubah total, kita tidak sedekat dulu dengannya. ketergantunganku ini akhirnya menguatkanku untuk berkata “Aku bersedia menjadi Ketua Himpunan selanjutnya”. Keputusan tersebut aku lakukan hanya untuk tempat pelampiasan aktivitasku selama ini dan berharap setelah menjadi ketua himpunan yang disibukkan dengan segala aktivitasnya, maka harapannya aku mampu melupakan sahabatku dan mampu berjalan sendiri mengarungi aktivitas kehidupanku.
Dan kini adalah hari-hari terakhir aku mengemban amanah di Himpunan. begitu cepat waktu berjalan memakan usia hidup kita. Sebulan lagi, seminggu lagi, sehari lagi, beberapa saat lagi bahkan makin membuat hati berdebar-debar ketakutan. Walaupun hanya melaporkan pertanggung jawaban aku di hadapan manusia, tetaplah membuat hati berdebar-debar tak karuan. Namun, apapun yang terjadi sebelum MUSANG berlangsung, aku mencoba untuk menutupi kegalauan hatiku di depan staf-stafku. aku tidak ingin apabila kegalauanku tampak terlihat oleh mereka maka stafku pasti ikut merasakannya dan makin tidak tenang.
Sabtu, 17 Desember 2011
Pertarungan hari pertama : Pagi-pagi aku sudah bersiap menuju kampus ke Gedung Fakultas MIPA di MP 1.2 tempat berlangsungnya Musyawarah Anggota. Saat itu aku datang telat karena tampak musyawarah sudah berjalan satu jam sebelum kedatanganku. agenda yang saat itu berlangsung adalah membahas AD dan ART Himpunan. Aku menyaksikan suasana begitu bergairah sekali sehingga banyak hujan interupsi dari peserta musyawarah untuk pembenahan landasan organisasi. Sehingga hasilnya 4 jam lebih mendekati ishoma baru terselesaikan pembacaan AD/ART. Dan, suasana tegang kembali memanas pada saat wacana penyampaian LPJ Pengurus yang itu berarti aku sebagai Ketua Himpunan harus membela habis-habisan wacana penyampaian LPJ Pengurus. Mereka atau lebih tepatnya peserta forum di luar pengurus menginginkan LPJ kami disampaikan pada siang itu juga. Namun, kami tetap bersikukuh untuk mengadakan LPJ esok harinya yaitu pada hari Minggu. alhasil, perang mulutpun tidak terelakkan lagi. Sehingga, dengan jiwa yang labil saat itu karena amarah yang terpendam, aku tetap memutuskan hari minggu dengan pertimbangan-pertimbangan dari peserta musyawarah. Aku terdiam sejenak, padahal hari ini masih belum berlangsung LPJ Pengurus namun suasana memanas sudah terlihat nyata. Dalam diam, Aku berdoa kepada Allah Swt agar besok keadaan MUSANG tidaklah seperti ini karena jujur saja suasana seperti itu tidak baik untuk kekeluargaan himpunan kami. Aku terus berusaha meredakan emosiku seorang selama sehari penuh agar aku menyiapkan LPJ pada esoknya dengan lebih arif dan bijaksana. Harapannya seperti itu, Namun , , ,  > > >
Minggu, 18 Desember 2011
Pagi hari terlihat mendung diluar rumah. ada apakah ini? apakah ini adalah firasat dengan aktivitasku sehari ini yang bakal mendung dalam arti tidak berjalan dengan lancar ? ahh, buat apa aku berpikir sejauh itu, mungkin terlalu berlebihan. sekali lagi, ini adalah pertanggung jawaban di depan manusia bukan di depan Sang Ilahi jadi aku tidak boleh melebih-lebihkan perasaanku yang malah merugikanku. Maka, aku mantapkan langkahku menuju kampus. Saat tiba dikampus aku mempersiapkan LPJ kami bersama staf-stafku semua. semua stafku sudah aku minta untuk menggunakan dresscode jaket hijau sebagai jaket himpunan kami, sedangkan aku menggunakan almamater (karena ketua himpunan-ketua himpunan sebelum aku selalu menggunakan almamater universitas). Yang membuat Hatiku bahagia adalah ternyata kawan-kawan sekelasku rela datang menyaksikan LPJ-anku untuk mendukungku dan menguatkanku. Alhamdulilah, dalam hati aku mengucapkan rasa syukur karena mendapatkan suntikan semangat untuk menjalankan LPJ-an ini nantinya.
Akhirnya, Laporan Pertanggung Jawaban dimulai mulai dari Pandangan Umum Ketua Himpunan, LPJ tiap divisi hingga LPJ pimpinan inti HMK. Selama LPJ tersebut banyak sekali hujan interupsi dan suasana yang berkali-kali panas dan tegang. susah untuk kembali dicairkan karena dari aku sendiri merasa tidak perlu terlalu berdebat menggunakan kata-kata. Jika ingin mengevaluasi kita silahkan, dan kami meminta rekomendasi dari peserta forum. Sebelumnya aku tidak pernah memprediksi LPJ-anku bakal seperti ini. Serangan demi serangan yang kami terima membuat kami terhenyak yang akhirnya membuat kami mencari jalan aman demi kebaikan himpunan kami. Okelah, jika mereka menganggap forum tersebut adalah forum permainan kata-kata namun sayang sekali bung, kita bukanlah orang-orang yang senang berkata omong kosong belaka yang tersirat dalam permainan kata-kata itu. kami bersepuluh yang duduk didepan forum (pimpinan HMK) terus dibuat jengkel dan marah. Namun, kami tetap menjalaninya dengan sabar karena kami harus tetap ingat adik-adik kami yang sedang menyaksikan kami. kami tak ingin terkesan terjadi perselisihan di dalam kimia khusunya himpunan kami. Jika tetap kami terus melawan, siapa lagi yang akan peduli dengan himpunan kami yang anggota-anggotanya lari semua karena terjadi adu mulut antar kakak seniornya. Sungguh malu diriku jika mengingat masa-masa itu. Okelah, aku akan sabar menjalani LPJ-an ini dan akan terus menanti hingga detik-detik akhir kepengurusanku.
Menjelang sore hari LPJ belum juga selesai, aku sudah benar-benar lelah dengan semua ini. tapi aku harus bertahan – HARUS. Ini adalah salah satu bentuk tanggung jawabku juga. Ketika pembacaan dari Fungsi Kontrol (Pengawas Himpunan seperti DPR dalam tatanan pemerintahan RI) telah tersampaikan kepada forum giliran kami pengurus untuk di isolasi. karena nantinya yang memutuskan diterima atau tidaknya LPJ kami adalah dari mereka para peserta forum. Saat itu yang terjadi di dalam forum tersebut tidak tahu menahu. aku tetap saja berprasangka baik, karena pikirku ada mungkin kami masih memiliki fungsi Kontrol yang akan membela kami. Saat kami dipanggil semuanya, ternyata hasilnya sungguh mengejutkan. Mereka memutuskan bahwa Hasil LPJ Pengurus kami tidak dapat dibacakan sebelum pengurus hadir berjumlah 100%. Langsung saja, hal tersebut mendapatkan reaksi keras dari para pengurus. hujan inreupsi yang bernada amarah dan kesal terlontar disana-sini ruangan forum dari pengurus. Ada yang mulai menitikkan air mata, wajah memerah menahan amarah, bahkan ada yang membanting apa saja yang ada didepannya. Sedangkan aku tetap tertunduk karena aku lelah sekali, aku biarkan pembelaan seperti apa yang dilakukan staf-stafku. Dalam diam, aku benar-benar tidak tahu apa sesungguhnya yang mereka inginkan dariku? apakah dengan memolorkan waktu LPJ-an kami maka akan menyelesaikan masalah? Apakah mereka tidak peduli dengan nasib himpunannya? dampaknya? kemanakah arah berpikir mereka? Aku biarkan saja seluruh pengurusku melakukan pembelaan yang tiada henti-hentinya, dan aku sendiri tetap diam dan menunggu saat yang tepat untuk membela.
Waktu shalat mahgribpun akan habis, maka forum tersebut dipending untuk shalat agar lebih dingin saat menyelesaikan masalah tersebut. Saat shalat itulah, aku curahkan isi hatiku kepada Sang Ilahi. aku sudah lelah, aku sudah capek, aku sudah melakukan yang terbaik untuk himpunan ini sesuai amanah yang aku emban, aku sudah berusaha merangkul seluruh mahasiswa kimia dari berbagai angkatan, namun mengapa balasan yang aku terima seperti ini? Dengan mudahnya mereka menghancurkan seluruh upaya aku untuk merangkul seluruh mahasiwa kimia ibarat hanya dengan membalikkan telapak tangan. Kurang puaskah mereka ingin menyiksaku lebih dari yang sebelumnya? Ya Allah, aku benar-benar lelah. Tak ayal lagi, air mataku terus keluar walaupun aku sudah berusaha menahannya. terus keluar seiring makin sakit hatinya diriku terhadap semua ini. alhasil, aku harus kuat. setelah shalat itu, aku hapus air mataku dan aku mantapkan langkah kembali ke forum dan dengan usaha  maksimal untuk membela pengurusku semua. Hanya satu yang ingin aku capai yaitu Aku Ingin Semua Ini Berakhir. Sempat pula aku diajak untuk berdialog dari hati ke hati oleh kakak tingkatku, namun, mohon maaf, hatiku sudah tertutup. benar-benar tertutup, hanya satu pencapaian aku pada malam ini seperti yang telah dijelaskan pada kalimat sebelumnya, yaitu ingin semua ini cepat berakhir.
Akhirnya, mereka sendiri jengkel ke kami, alhasil mereka keluar forum dengan mudahnya. Aku tidak memedulikannya. Yang pasti, setelah pengurus kami hadir 96% (sisanya memang ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan) maka LPJ kami dinyatakan Diterima dengan Syarat Revisi. Alhamdulilah, aku panjatkan rasa syukurku kepada Allah swt. Penantian yang sangat melelahkan yang dimulai pada pagi hari hingga malam ini. Hampir setengah hari hanya membahas LPJ Kepengurusan kami. Namun, aku juga mengintropeksi diriku sendiri apa yang kurang dalam diriku hingga hari-hari selanjutnya. Setelah mendapatkan pencerahan dari sahabatku, maka sadarlah aku akan kesalahanku. Kesalahanku adalah seharusnya aku tidak boleh memohon-mohon kepada manusia karena memohon hanya kita tujukan kepada Allah Swt. Selain itu, aku harus lebih kuat dan tidak terkesan lemah ketika menjadi pemimpin dihadapan orang lain karena hal itu adalah sikap yang salah, bersikap profesionellah ketika menjadi anak buah walau tidak menjadi pemimpin, dan pelajaran yang paling mengena kepadaku bahwa aku dipaksa untuk menjadi manusia yang lebih kuat dan tidak lemah, serta selalu tetap berprasangka baik kepada semua orang. Insya Allah, pelajaran berharga ini tidak akan kulupakan dan menjadi bahan intropeksi menjadi manusia yang lebih baik. Insya Allah
Jelang pemilihan Ketua Himpunan terpilih telah diputuskan yaitu Dhoni Prielanta Yulistian dari angkatan 2009 sebagai Ketua Himpunan periode selanjutnya. Dia adalah orang dengan tipe tenang, hati-hati, berkarisma, dan berwibawa. berbeda dengan aku yang lebih mudah meledak-ledak, kontroversial plus radikal di lingkungan MIPA atau IKAHIMKI, tergesa-gesa, dan tidak ada wibawa. Namun tetap, aku bangga dengan keakuanku ini. karena sifat seperti itu juga dibutuhkan untuk melihat kepentingan himpunan kita agar anggota lebih sejahtera. dan, inilah warna himpunan kami karena memiliki ketua himpunan dengan watak sepertiku.
Alhamdulilah, tepat pukul 21.00 telah dilangsungkan serah terima jabatan berupa Bendera dan Kunci Sekretariat dengan Ketua Himpunan terpilih sekaligus dibacakan oleh presidium keputusan bahwa Kepengurusan kami tahun 2011 dinyatakan DEMISIONER. Alhamdulilah Ya Rabb !!!
Akhirnya telah aku tunaikan amanah ini selama setahun lamanya membawa himpunanku supaya lebih baik di masaku, dan berharap dapat lebih baik di tahun-tahun mendatang. Saatnya aku kembali pada duniaku, duniaku yang sesungguhnya seperti 6 tahun yang dimana aku menjalani hidupku seorang diri, menyelesaikan masalah sendiri, dan tempat berbagi cerita seorang diri. Aku gunakan waktuku ini, untuk memperbaiki kepribadianku yang teramat buruk dan lemahnya. butuh motivasi-motivasi dan pembelajaran dari sekelilingku tentang arti hidup yang sesungguhnya, arti hidup dengan totalitas hanya kepada Allah Swt, setiap langkah selalu ingat kepada-Nya. Lupakanlah, segala masa laluku yang sempat indah bersama sahabat-sahabatku yang saat ini sudah berbeda sekali. yah, aku harus menjalani hidupku seorang. Namun, dalam kesendirianku aku tetap percaya bahwa suatu saat entah minggu depan, bulan depan, tahun depan, 2 tahun depan, atau kapanpun itu akan datang kepadaku dua orang spesial dalam hidupku yaitu :
Istri yang Sholehah dan Menjadi Tumpuan Hidupku
Sahabat Sejati yang mengisi hari-hariku dengan suka dan duka
dan
kedua orang tersebut akan bersama-sama meningkatkan rasa iman dan takwa kita kepada Allah swt. Aku mencintainya karena cintaku kepada Allah Swt.

Ya Allah, Kabulkanlah Harapanku ini agar aku tidak menjalani hidupku ini seorang diri. Setidaknya ada yang mengingatkanku jika aku berjalan di jalan yang salah, dan mengikutiku jika berada di jalan yang benar yaitu jalan Allah Swt.
Aamiin Ya Rabb

Terima Kasih kepada :
  1. Allah Swt yang terus memberikan kekuatan kepadaku dan kasih sayangnya hingga detik ini
  2. keluargaku yang dengan ikhlas aku luangkan waktuku lebih banyak di kampus daripada di rumah
  3. Pengurus HMK 2011 yang memberikan warna dalam kehidupanku
  4. Sekretaris dan Bendahara Umumku serta Pimpinan HMK lainnya yang selalu mendukungku dan menerimaku apa adanya (Dhesy, Faridah, Novia, Eka, Faiza, Dita, Sarah, Frisma, Mas Febrianto)
  5. Kawan-kawan yang mendukungku selama LPJ berlangsung dan membelaku tanpa pernah lelah (Alan, Bimo, Tante Monica, Mami Winda, Ike, Ivro, Agnes, Ira, Pakde Rama, dan AM)
  6. Sahabat dan juga kakakku yang telah mengoreksi dan mendinginkanku selalu tanpa pernah lelah (Mas Sona)
  7. Sub Divisi IKAHIMKI dengan kejutannya (Frisma, Nia, Ghofur, Satriana, Uus)
  8. Jurusan dan Fakultas yang mempelancar kegiatan-kegiatan kami (Bu Zubaidah, Pak Sasangka, Pak Mesenu, Pak Agung, Pak Heri, dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan semuanya)
  9. Kawan-kawan seluruh MIPA yang ikut memberikan warna dalam hidupku selama aku menjabat sebagai Ketua Himpunan
  10. Rekan-rekan IKAHIMKI diluar Universitas Brawijaya sebagai teman baru bagiku (UIN, UM, ITS, UNAIR, UJ, IKIP MATARAM, UNRAM, UNUD, Mas Rofik – Korwil Bapewil IV, Mas Ziyad – Sekjen BPP)
Ruang Kimia 3, Fakultas MIPA, Universitas Brawijaya, Malang
29 Desember 2011


 Lambang Himpunanku (Himpunan Mahasiswa Kimia - HMK) Universitas Brawijaya
 Pengurus HMK 2011 menunggu detik-detik pengumuman LPJ saat MUSANG
 Rapat terakhir dengan beberapa game yang aku adakan. Tampak Staf Magang dan Pengurus menulis kritik dan saran
 Wajah Ceria dari Para Pengurus dan Staf Magang
Kegiatan Bintang Aktivis dimana HMK mewakilkan dua orangnya sebagai juara. Sebuah prestasi dan kebanggaan tersendiri bagi himpunanku dan bagiku juga
 Para Pimpinan HMK periode 2011
Pengurus HMK Periode 2011

 Saya dengan Divisi IKAHIMKI yang penuh kenangan terutama saat menghadiri Pra MUSTA di Univ. Jember, Kunjungan Universitas lain ke Universitas Brawijaya, hingga konflik yang menjadi warna hidupku dengan mereka
 Suasana LPJ Kepengurusan yang berulang kali sempat tegang dan memanas
 Aku dengan Divisi LBI yang mengingatkanku pada masa-masa lalu sebagai pengurus LBI tahun 2009
Seluruh Pengurus sambil menunggu detik-detik pengumuman penerimaan LPJ kita saat MUSANG
Serah Terima jabatan berupa kunci sekretariat HMK UB dari Ketua Himpunan Lama (kiri) ke Ketua Himpunan Baru (kanan)

Minggu, 25 Desember 2011

Doa Ashabul Kahfi: Memohon Rahmat dan Bimbingan Allah Saat Terancam


Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)"." (QS. Al-Kahfi: 10)

Doa di atas dibaca para pemuda Ashabul Kahfi saat memasuki goa. Mereka berlindung ke dalamnya karena khawatir akan keselamatan agama mereka. Karena raja yang berkuasa di daerah tempat tinggal mereka membenci dan memusuhi keyakinan para Ashabul Kahfi.

Banyak mufassirin generasi salaf dan khalaf yang menyebutkan, para pemuda tersebut terdiri dari anak-anak raja Romawi dan orang-orang terhormat mereka yang bersatu karena iman. Saling bantu-membantu menegakkan ibadah kepada Allah semata dalam tempat ibadah yang mereka bangun bersama. Terus bertahan demikian sehingga mereka diketahui oleh kaumnya. Kemudian mereka dilaporkan kepada raja mereka. Sang raja memanggil mereka untuk datang menghadap kepadanya. Lalu ia bertanya tentang hal ihwal dan kegiatan mereka. Lalu mereka menjawab dengan sebenarnya dan mengajak raja itu untuk menyembah Allah Ta'ala.

وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آَلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
"Dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran". Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?" (QS. Al-Kahfi: 14-15)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Allah Ta'ala berfirman: Kami jadikan mereka bersabar atas tindakannya menentang kaum mereka sendiri, meninggalkan kampung halaman mereka dan meninggalkan kehidupan yang enak, kebahagiaan, dan kenikmatan."
Sesudah mereka menyeru raja untuk beriman kepada Allah, maka raja menolak seruan tersebut. Bahkan ia mengancam mereka dan menyuruh menanggalkan pakaian yang mereka kenakan, yang padanya terdapat perhiasan kaumnya. Kemudia ia memberikan waktu kepada mereka untuk berpikir supaya rela meninggalkan keyakinan mereka.
Kemudian Allah menurunkan rahmat dan kasih sayangnya kepada para pemuda Ashabul Kahfi, di mana pada masa penangguhan itu mereka berhasil melarikan diri demi mempertahankan agama yang dianutnya dari fitnah. Lalu mereka ber'uzlah, dan Allah menurunkan ilham-Nya kepada mereka agar berlindung ke dalam gua, mencari tempat di sana sehingga raja dan kaumnya kehilangan jejak mereka. Hal ini diterangkan dalam firman-Nya,

وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا
"Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu." (QS. Al-Kahfi: 16)

Raja dan kaumnya terus mencari para pemuda Ashabul Kahfi, tapi tidak menemukannya. Bahkan Allah membutakan raja dan kaumnya untuk mendapatkan berita para pemuda tersebut. Hal ini sebagaimana Allah membutakan kaum kafir Quraisy yang memburu Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan Abu Bakar al-Shiddiq, saat keduanya bersembunyi di gua Tsur dalam keberangkatan hijrah ke Madinah. Padahal Kafir Quraisy telah melalui tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, namun mereka tidak mendapatkan keduanya.
Nah, pada saat mereka akan memasuki gua di sebuah gunung, tempat sembunyi dan berlindung dari raja dan kaumnya yang kafir, mereka berdoa kepada Allah Ta'ala saat memasukinya, memohon rahmat dan kebaikan-Nya,

رَبَّنَا آَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)"." (QS. Al-Kahfi: 10)

Maksudnya: Anugerahkan kepada kami rahmat dari sisi-Mu, yang dengannya Engkau rahmati kami dan selamatkan kami dari kaum kami. Dan tetapkanlah petunjuk yang lurus kepada kami dalam urusan kami. Dengan kata lain, jadkanlah kesudahan akhir kami di bawah petunjuk yang lurus. Sebagaimana doa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam,

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الْآخِرَةِ
"Ya Allah, jadikanlah baik akhir kesudahan kami dalam semua urusan, dan selamatkanlah kami dari kehinaan dunia dan azab akhirat." (HR. Ahmad dari Busr bin Arthah al-Qurasyi)

Kemudian Allah menurunkan urusan-Nya kepada mereka, menjadikan mereka tertidur bertahun-tahun lamanya sesaat sesudah mereka memasuki goa, yakni 309 tahun. Dan saat mereka terbangun, kondisi masyarakat sudah berubah. Raja yang berkuasa adalah seorang muslim yang menurut satu riwayat namanya, Yandusus. Rakyatnya juga demikian. Sehingga saat raja dan rakyatnya menemui mereka di dalam goa, para Ashabul Kahfi merasa bahagia dan bercengkrama bersamanya. Kemudian mereka meninggalkan para pemuda tersebut dan mengucapkan salam kepada mereka. Lalu mereka kembali ke tempat pembaringan mereka sehingga Allah mewafatkan mereka. Wallahu Ta'ala a'lam.

Kamis, 22 Desember 2011

RINGKASAN TATA CARA SHALAT KHUSUF (GERHANA BULAN)


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Sebagaimana kita mengetahui bahwa gerhana matahari dan bulan merupakan fenomena alam yang tidak seperti biasanya, maka Allah Ta’ala mensyariatkan atas kita melalui lisan Nabi-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam untuk melaksanakan shalat gerhana. Pada gerhana matahari biasanya disebut dengan shalat kusuf, sedangkan pada gerhana bulan dengan shalat khusuf. Namun terkadang kedua nama tersebut memiliki arti yang sama. Artinya kusuf bisa digunakan untuk gerhana matahari dan bulan, begitu juga khusuf.
Pada beberapa malam, terjadi gerhana bulan total. Gerhana ini dapat disaksikan di seluruh wilayah di Tanah Air. Karenanya, kaum muslimin yang menyaksikan gerhana tersebut disyariatkan untuk mengerjakan shalat khusuf. Kaifiyahnya, memiliki sedikit perbedaan dari shalat pada umumnya. Karenanya perlu kami suguhkan lagi tulisan berkaitan dengan tata cara shalat gerhana ini.
Tidak ada perselisihan di antara ulama, shalat gerhana dikerjakan dua rakaat. Dan pendapat yang masyhur dari pelaksanaannya adalah pada setiap rakaatnya dua kali berdiri, dua kali bacaan, dua kali ruku', dan dua kali sujud. Ini adalah pendapat Imam Malik, Imam al-Syafi'i, dan Imam Ahmadrahimahumullah. Argument mereka sebagai berikut:
Pertama: Hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, ia mengatakan: "Terjadi gerhana matahari pada zaman RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam, lalu beliau shalat dan orang-orang mengikuti shalat beliau. Kemudian beliau berdiri dalam waktu yang sangat panjang sepanjang sekitar bacaan surat Al-Baqarah. Kemudian beliau ruku' dengan ruku' yang sangat panjang. Kemudian beliau berdiri cukup panjang, namun lebih pendek dari yang pertama. Kemudian beliau ruku' dengan ruku' yang cukup panjang, namun lebih pendek daripada ruku' yang pertama." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua: Hadits Aisyah Radhiyallahu 'Anha, "Bahwa RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam mengerjakan shalat pada saat terjadi gerhana matahari. Kemudian beliau berdiri lalu bertakbir, lantas membaca bacaan yang sangat panjang. Kemudian ruku' dengan ruku' yang sangat panjang, kemudian mengangkat kepalanya sambil berucap, SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH. Beliau tetap berdiri seperti itu, kemudian membaca bacaan yang sangat panjang, tetapi lebih pendek dibandingkan bacaan yang pertama. Kemudian beliau ruku' dengan ruku' yang sangat panjang, tetapi tidak sepanjang ruku' yang pertama. Kemudian beliau sujud dengan sujud yang panjang. Beliau melakukan itu pada rakaat kedua, kemudian mengucapkan salam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga: Hadits jabir Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata: "Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada hari yang sangat panas. Kemudian beliau shalat bersama para sahabatnya dengan memperpanjang berdiri hingga membuat mereka jatuh tersungkur. Kemudian beliau ruku' dengan panjang, lalu mengangkat kepalanya dan berdiri dengan masa yang panjang. Kemudian beliau ruku' kembali dengan ruku' yang panjang. Kemudian beliau sujud dua kali, lalu berdiri kembali. Beliau mengulanginya seperti rakaat pertama. Jadi shalat tersebut, empat kali ruku' dan empat kali sujud." (HR. Muslim, Abu Dawud, al-Nasai, dan Ahmad)
Jadi dapat diringkas dari tata cara pelaksanaan shalat gerhana sebagai berikut:
  1. Bertakbir, membaca istiftah, Isti'adzah, al-Fatihah, kemudian membaca surat yang panjang, setara surat Al-Baqarah.
  2. Ruku' dengan ruku' yang panjang (lama).
  3. Bangkit dari ruku' dengan mengucapkan Sami'Allahu LIman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
  4. Tidak langsung sujud, tetapi membaca kembali surat Al-Fatihah dan surat dari Al-Qur'an namun tidak sepanjang pada bacaan sebelumnya.
  5. Ruku' kembali dengan ruku' yang panjang tapi tidak sepanjang yang pertama.
  6. Bangkit dari ruku' dengan mengucapkan, Sami'Allahu LIman Hamidah, Rabbanaa wa Lakal Hamd.
  7. Sujud, lalu duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali.
  8. Kemudian berdiri untuk rakaat kedua, dan caranya seperti pada rakaat pertama tadi.
Catatan:
* Disunnahkan pelaksanaan shalat gerhana di masjid, tidak ada azan atau iqomah sebelumnya, hanya panggilan “Al-Shalatul Jami'ah.”
    Dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha, "Bahwa telah terjadi gerhana matahari di zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam lalu beliau mengutus seorang untuk menyeru “Al-Shalatul Jami'ah,” maka mereka berkumpul dan beliau maju bertakbir dan shalat dua rakaat dengan empat ruku' dan empat sujud." (HR. Muslim)
    Diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr, ia mengatakan: "Ketika terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, diserukan “Al-Shalatul Jami'ah”. (HR. Al-Bukhari)
    Disunnahkan Imam untuk memberikan nasihat kepada manusia dengan berkhutbah setelah shalat, memperingatkan mereka agar tidak lalai dan memerintahkan mereka supaya memperbanyak doa, istighfar, dan amal shalih. Hal ini didasarkan pada hadits 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, "Ketika NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam sudah selesai dari shalat, beliau berdiri dan berkhutbah kepada jama'ah. Beliau memuji Allah dan menyanjungnya. Kemudian beliau mengatakan,
      إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ثُمَّ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ مَا مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرُ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
      "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Maka jika kalian melihatnya bersegeralah berdoa kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.Kemudian beliau bersabda: Wahai Umat Muhammad, demi allah, tidak ada seorangpun yang lebih pencemburu daripada Allah. (Dia cemburu) hamba sahaya laki-laki dan hamba sahaya perampuan-Nya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah kalau saja kalian tahu apa yang aku ketahui niscaya kalian sedikti tertawa dan banyak menangis.(HR. Al-Bukhari)
      Maknanya, tidak ada yang lebih banyak mencela perbautan keji (zina) daripada Allah Ta'ala. Yang ini mengindikasikan, bahwa Allah akan menghukum pelaku zina di dunia dan akhirat, atau di salah satunya. Ini memiliki korelasi dengan perintah untuk memperbanyak istighfar, zikir, doa, shalat dan shadaqah, karena maksiat adalah sebab utama datangnya bala' dan musibah, dan maksiat yang paling hina adalah berzina.